Menurut Kantor Berita ABNA, Hujatulislam Kazem Sedighi, Khatib Jumat Tehran dalam khutbahnya menyinggung putaran baru perundingan nuklir Iran dan Kelompok 5+1 di Wina, Austria. Menurutnya energi nuklir damai adalah masalah nasional dan modal besar bagi Iran untuk melawan kekuatan-kekuatan besar dunia. Ia mengatakan, "Bangsa Iran tidak akan pernah mundur dari hak-hak legal dan agamanya dalam menghadapi arogansi musuh-musuh."
Dengan memperhatikan situasi serba sensitif putaran perundingan nuklir kali ini, menurut Sedighi kesepakatan final nuklir Iran dan Kelompok 5+1 harus sejalan dan seiring dengan pencabutan total sanksi-sanksi atas Iran.
Sedighi menilai prestasi nuklir Iran tidak bisa dihentikan dan bangsa Iran telah berkorban banyak demi kemajuan nuklirnya. Oleh karena itu para pakar nuklir Iran dalam masalah riset dan pengembangan nuklir harus terus bergerak maju.
Ia menegaskan, tidak ada seorangpun yang berhak melakukan transaksi dengan Barat terkait nuklir Iran. Berdasarkan perjanjian pelarangan produksi dan perluasan senjata nuklir (NPT), energi nuklir damai adalah hak setiap bangsa dan tidak ada satu negarapun yang boleh memiliki senjata nuklir.
Mengutip penjelasan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Khatib Jumat Tehran mengatakan, "Iran tidak menentang perundingan, bahkan upaya diplomatik harus dilakukan. Orang-orang cerdas dan kuat harus memilih taktik yang tepat dan berunding dengan berbagai negara, pasalnya ini adalah konsekuensi hidup di dunia."
Garis merah Iran dalam perundingan nuklir harus selalu dijaga, katanya, dan menilai berbicara tentang jumlah sentrifugal adalah jebakan Barat. "Pengayaan uranium harus dilakukan di dalam wilayah Iran dengan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang ada, karena janji-janji Barat terkait pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini sama sekali tidak dapat dipercaya," tandasnya. (IRIB)